HMSTimes - What Happened Today? Warga Negara Singapura Menyandera Anaknya Sendiri | HMSTIMES
You are here
Home > HMSNews > Berita > Warga Negara Singapura Menyandera Anaknya Sendiri

Warga Negara Singapura Menyandera Anaknya Sendiri

 

HMSTimes.com, Batam-  seorang warga Negara Singapura berinisial PO  yang sudah lama tinggal di Indonesia dan menikah dengan NE warga Negara Indonesia, sekitar pukul 09:00 wib membuat geger warga seraya, di mana dia di kabarkan menyandera anak angkatnya sendiri di rumah tempat mereka tinggal di perumahan Seraya Garden no 41. Dari penuturan warga kepada HMSTimes.com bahwasanya PO tersebut di kabarkan menyandera anaknya gara-gara masalah keluarga  (cekcok dengan istrinya). Mereka berebut hak asuh anak yang telah mereka adopsi sekian lama. Mereka sudah berapa bulan ini mereka bertengkar terus ujung-ujungnya mereka sempat pisah ranjang hingga terdengar PO menyandera anaknya berinisial ME.

ME yang masih duduk dibangku sekolah dasar ini dikabarkan disandera oleh ayahnya sudah dua hari dan tidak diberi makan serta diancam oleh ayahnya akan  di bunuh dengan pisau, gunting dan obeng, dan baru tadi pagi puncaknya tahu-tahu sudah ada polisi rame disini ujar H warga setempat.

Setelah beberapa jam pihak kepolisian dari Polsek BatuAmpar dan Polresta Barelang bernegosiasi dan membujuk PO supaya menyerahkan diri tidak membuahkan hasil;, pada pukul 19:05 WIB akhirnya polisi mendobrak pintu dan mengamankan ME dan meringkus PO. Ratusan warga yang sudah geram ramai memadati pekarangan rumah PO, sambil berteri-teriak untuk melampiaskan kegeraman mereka, jadi demi keamanan polisi langsung memboyong PO ke Polresta Barelang, NE istri PO yang di temui oleh wartawan tidak bisa ngomong apa-apa dia terus menangis sambil ditenangkan oleh seorang polwan dari Polresta Barelang, sementara ME anak mereka langsung dibawa kerumah sakit untuk mengecek kondisi kesehatannya.

Kemudian setelah aksi penyanderaan itu selesai, Kapolresta Barelang AKBP Hengki Sik, M.H menyampaikan bahwasanya PO merupakan Warga Negara singapura, yang mana dia merupakan residivis dan DPO dari Negara asalnya, dan setelah di cek dokumennya berupa passport, rupanya passport PO sudah mati sejak tahun 2006 yang lalu, berarti sudah 11 tahun, tutur Kapolresta yang baru dilantik itu kepada awak  media.

Nah untuk kelanjutan kasusnya perlu penyidikan lanjutan dan kami perlu koordinasi dengan Negara asalnya (singapura) dan kalau status hak asuh anak belum bisa saya pastikan apakah ke ibunya apa bapaknya kami proses dulu baru kita pastikan, tuturnya menjawab pertanyaan awak media. A.Zagoto / Karina

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top