HMSTimes - What Happened Today? Memasuki Musim Penghujan, Amsakar Achmad Instruksikan Camat dan Lurah Monitor Titik Banjir. | HMSTIMES
You are here
Home > HMSNews > Berita > Memasuki Musim Penghujan, Amsakar Achmad Instruksikan Camat dan Lurah Monitor Titik Banjir.

Memasuki Musim Penghujan, Amsakar Achmad Instruksikan Camat dan Lurah Monitor Titik Banjir.

Pasar melayu salah satu titik banjir di kota Batam dinormalisasi oleh Dinas Bina Marga dan Sumber daya air

HMSTimes.com, Batam- Memasuki musim penghujan khususnya wilayah Batam, dimana masalah banjir masih menjadi masalah bagi warga. Hal ini menjadi salah satu perhatian pemerintah kota (pemko) Batam, dimana wakil wakil wali kota mengistruksikan kepada  Camat dan Lurah untuk meninjau/memonitor titik banjir di daerahnya masing-masing.

“Monitor titik banjir di wilayah kecamatan masing-masing. Dan koordinasikan dengan Bina Marga (Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air),” kata Amsakar Achmad dalam apel gabungan pegawai Pemerintah Kota Batam di Dataran Engku Putri, Senin (2/7).

Amsakar berharap agar banjir tidak terjadi lagi dipemukiman warga, apa lagi tersebar dimedsos seperti kejadian di Nongsa pekan lalu.

Sebelumnya, Walikota Batam, Muhammad Rudi mengatakan ia langsung cek ke Nongsa begitu informasi banjir ia terima. Ia memimpin langsung rapat dengan kecamatan dan pihak terkait untuk tuntaskan masalah banjir ini.

Rudi dengan tegas meminta pihak PT Kaliban Bangun Prakarsa segera membangun drainase di lokasi pembangunan mal yang tengah dilakukan. Karena banjir yang terjadi di RW 21 Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa tersebut akibat pembangunan perusahaan tanpa mengindahkan kondisi lingkungan.

“Bangun drainase atau hentikan semua. Kalau tidak, tarik balik lahannya,” kata Rudi.

Berdasarkan hasil rapat disepakati bahwa untuk sementara Satuan Kerja Kementerian PUPR bersama Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air akan membuat spack RAB Box Cluvert untuk normalisasi. Pihak perusahaan menyetujui dan akan memberikan bantuan senilai Rp 100 juta untuk normalisasi tersebut.

Ia mengatakan ke depannya lahan untuk drainase harus diserahkan di awal pengalokasian lahan. Tidak seperti sekarang, lahan fasilitas umum diserahkan di akhir sehingga dapat lokasi tak strategis.

“Lahan untuk drainase tidak boleh seperti sekarang, lahan diberi habis lalu dikembalikan sekian meter. Saya tak setuju seperti itu. Karena lahan yang dikembalikan tidak sesuai kondisi. Ini yang terjadi di SMPN 28. Lahan yang diberi untuk buat saluran air berada di bukit. Air mana bisa mengalir ke atas,” ujarnya.(*)

Sumber : MCB

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top