HMSTimes - What Happened Today? KM. SINAR BANGUN "System Keselamatan Tidak Berfungsi" | HMSTIMES
You are here
Home > HMSNews > Berita > KM. SINAR BANGUN “System Keselamatan Tidak Berfungsi”

KM. SINAR BANGUN “System Keselamatan Tidak Berfungsi”

HMSTimes.com, Jakarta- Karamnya KM. SINAR BANGUN di perairan Danau Toba menambah catatan buruk Indonesia dimata Internasional. Indonesia adalah salah satu anggota dari International Maritime Organisation (IMO) yang berkomitment melaksanakan tugas dan fungsi pengawasan keselamatan pelayaran melalui penerapan SOLAS, STCW, ISM dan MLC. Akan tetapi, pelaksanaan di lapangan masih belum sepenuhnya berjalan baik dengan menerapkan system keselamatan kerja. Hal ini dipicu oleh karena lemahnya fungsi control pengawasan dari Syahbandar.

Benhauser Manik yang juga berprofesi sebagi pelaut kepada HMSTimes.com menyampaikan bahwa Sesuai data yang didapatkan langsung dari tempat kejadian perkara (TKP) melalui Sdr Remember Manik, yakni tidak tersedianya Ship Particular data kapal yang jelas, tidak adanya alat pelindung diri (APD), kelengkapan Navigasi, serta minimnya kemampuan crew kapal dalam peyusunan stowage plan untuk mempertahankan daya apung kapal dengan baik.

Karamnya KM. Sinar Bangun tentu dapat di hindari jika fungsi control Syahbandar setempat melalui petugas jaga Simanindo – Tigaras menjalankan serta melaksanakan minimum standard keselamatan sebelum kapal bertolak dari pelabuhan. Sebagai refensi Benhauser Manik sampaikan bahwa menurut data yang dimiliki oleh Ikatan Korps Perwira Pelayaran Niaga Indonesia (IKPPNI) jumlah kecelakaan sepanjang tahun 2017 sebanyak 69 kecelakaan dengan jumlah korban 182 jiwa. Jumlah tersebut cukup besar jika kita lakukan penghitungan sederhana maka, setiap bulan terjadi sebanyak 5,7 kecelakaan dengan jumlah kematian 15 jiwa setiap bulanya.

Pemerintah harus melakukan tindakan perbaikan sesegera mungkin melalui peningkatan kepedulian keselamatan pelayaran serta mutu seluruh petugas di jajaran perhubungan laut dan kofitensi kecakapan pelaut yang baik, harapnya.

Alat transportasi air lainya yang saat ini sedang beroperasi di Danau Toba perlu di atur melalui PERDA dengan bekerja sama pada pemuka adat (budaya) dalam meyusun Standard Operasi Prosedur (SOP) yang mutlak harus ada di setiap kapal serta hal-hal yang di anggap tabu pantang untuk disebutkan (meningat Danau Toba adalah tempat yang sakral).

Semoga team SAR yang sudah melakukan tugas negara dalam peyelamatan karamanya KM. Sinar Bangun serta seluruh korban dapat membuahkan hasil sehingga keluarga korban tidak terus mengalami kesedihan yang berlaut.

A.Zagoto

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top