HMSTimes - What Happened Today? KM.Bukit Raya Lepas Bebas Dari Kandas, Penerapan Fungsi Tugas Personel Safety Perlu Di Evaluasi | HMSTIMES
You are here
Home > HMSNews > Berita > KM.Bukit Raya Lepas Bebas Dari Kandas, Penerapan Fungsi Tugas Personel Safety Perlu Di Evaluasi

KM.Bukit Raya Lepas Bebas Dari Kandas, Penerapan Fungsi Tugas Personel Safety Perlu Di Evaluasi

HMSTimes.com, Natuna- Telah berhasil kapal KM Bukit Raya dievakuasi dari kandasnya dan penanganan  kebocoran dari semua eksistensi semua pihak tentunya kita berikan apresiasi yang setinggi tingginya.  Namun Kedepannya Perlu kita harapkan bersama Peran Anak Buah Kapal dalam menyelamatkan Penumpang (Evakuasi Penumpang),  prinsip mengedepankan Prioritas betapa pentingnya fasilitas keselamatan, (Safety Equipment Function) harapan dari dari salah satu teknis dalam peraturan pelayaran dalam keselamatan penumpang kapal adalah hal yang sangat penting untuk diterapkan diatas kapal laut berjenis apapun,entah itu kapal transportasi maupun kapal jenis boat. Untuk penanganan keselamatan penumpang tentunya harus mengedepankan sebuah proses yang merujuk kepada prosedur. Tugas dan fungsi anak buah kapal agar evakuasi penumpang dalam kondisi gawat darurat diatas kapal berjalan dengan baik sesuai prosedur. Selain daripada kapal diwajibkan meminta pertolongan pada semua kapal  yang ada di sekitarnya dan kapal yang berlayar di sekitar lokasi kecelakaan wajib memberikan pertolongan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1992 Tanggal 17  September 1992 Tentang Pelayaran,Pasal 58 Tugas Nahkoda membawa kapal dari tempat tolak ke tempat tujuan dengan aman dan selamat.Dalam hal dijumpai yang mungkin membahayakan keselamatan berlayar, Nahkoda dapat menyimpang dari rute dan /atau garis halaman (track) yang telah ditetapkan, walaupun tindakan tersebut akan menambah biaya operasional dan lama perjalanan. Yang dimaksud dengan tindakan lainnya yang diperlukan adalah tindakan penyelamatan bagi kapal maupun jiwa manusia sesuai peraturan perundangan undangan yang berlaku.

Pemerintah sangat tegas terkait aturan kapal penumpang,itu terlihat dari diterbitkannya oleh direktur jenderal perhubungan laut kementerian perhubungan menerbitkan instruksi No.UM.008/I/II/DJPL-17 tertanggal 3 januari 2017 Tentang kewajiban Nahkoda dalam penanganan  penumpang selama pelayaran. Awak kapal juga wajib melakukan pengenalan penggunaan baju pelampung dan menunjukkan jalur keluar darurat (emergency escape),tempat berkumpul (Muster station), serta perintah penyelamatan diri kepada penumpang kapal.

Selanjutnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2002 Tentang Perkapalan,Pasal 82 ayat (3). Disetiap Kapal yang memiliki sekoci harus tersedia sijil-sekoci yang memuat petunjuk bagi anak buah kapal dan penumpang untuk menempati sekoci penolong apabila dalam keadaan bahaya dan ada perintah Nakhoda untuk meninggalkan kapal.

Ketika kapal mengalami gejala gejala akan terjadinya kecelakaan,Sekoci penolong,Life Jacket dan berbagai alat keselamatan lain menjadi kebutuhan utama menyelamatkan nyawa para penumpang dan awak. Namun diduga tidak sama halnya dengan KM.Bukit Raya yang kandas dan bocor diwilayah perairan Natuna,tepatnya dikarang Neneh berdasarkan penjelasan dari Fleet Director Indonesian Shipping Company Muhammad Tukul Harsono, yang juga menurut penjelasannya sebagai ketua Designated Person Ashore,(DPA), saat konfrensi pers dirumah makan Gerai,(25/5/2018),insiden kandas dan bocornya KM.Bukit Raya merupakan sebab akibat Human Error. Terkait evakuasi penumpang dalam kondisi gawat darurat para penumpang yang tidak menggunakan Life Jacket. Ketika Tukul dikonfirmasi awak media ini,(25/5/2018),dirinya mengatakan hanya isu yang tidak bisa di pertanggungjawabkan dan menurutnya  Itu yang ga mau pakai, bukti life jacket berserak di atas kapal kita ga usah beralibi yang ga gak pak. Atas jawaban tersebut kembali awak media ini melayangkan balasan jawaban dengan kalimat  yaitu Saya  bukan beralibi, ijin pak saya bukan beralibi yang gak gak pak Tukul,apakah di undang undang pelayaran penumpang yang ngatur crew Safetynya ya Pak?

Terkait  penumpang tidak menggunakan life jacket dalam keadaan evakuasi gawat darurat, personel keselamatan KM.Bukit Raya diduga tidak tanggap untuk tidak memperbolehkan penumpang turun sebelum mempergunakannya, hal ini seharusnya tanggung jawab sepenuhnya personel keselamatan Kapal KM. Bukit Raya,untuk menjalankan Aturan dan peraturan yang berlaku.  Mau tidak mau atau suka tidak sukai penumpang diharuskan dan diwajibkan memakai. Terkesan personel keselamatan kurangnya kesiapan pemahaman prosedur dan fungsi life jacket,Karena life jacket dan Safety equipment lainnya adalah merupakan kebutuhan yang utama dan harus dipergunakan dalam kondisi gawat darurat,mandat dari undang undang pelayaran nomor 17 tahun 2008 dan SOLAS 1974. Pengadaan perlengkapan keselamatan di Kapal tentunya  untuk dipergunakan sebagaimana semestinya. Dan menurut Tukul bahwasanya KM.Bukit Raya Yang memiliki crew berjumlah 78 orang,juga menerapkan International Safety Management,(ISM). Terkait hal ini perlunya PT PELNI mengevaluasi lagi, bercermin dari Foto Penumpang seorang ibu yang menggendong seorang anak dan penumpang lainnya ketika dilakukan evakuasi tanpa menggunakan rompi pelampung, (life jacket). Sepertinya  Standar Operasional Prosedur Evakuasi Penumpang KM. Bukit Raya pada saat kondisi gawat darurat terkesan belum berkesesuaian sebagaimana semestinya harapan aturan dan peraturan keselamatan pelayaran yang berlaku.

Lubis

Editor : A.Z

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top