HMSTimes - What Happened Today? Tiga Opsi KEK Untuk Memulihkan Ekonomi Batam | HMSTIMES
You are here
Home > HMSNews > Berita > Tiga Opsi KEK Untuk Memulihkan Ekonomi Batam

Tiga Opsi KEK Untuk Memulihkan Ekonomi Batam

HMSTimes.com, Batam- Keterpurukan ekonomi Batam saat ini, memaksa pemerintah untuk mendapatkan formula mengembalikan ekonomi Batam seperti semula.

Walikota Batam, Muhammad Rudi optimis perekonomian Batam akan membaik di 2018 mendatang. Optimisme ini didasarkan pada hasil rapat terakhir Dewan Kawasan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.Dalam mengelolah ekonomi Batam, ada 3 opsi  Barelang yang menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK).

Pertama, KEK Batam dikelola BP Batam, Relang BP. Kedua, KEK Batam dikelola BP, Relang dikelola bersama Pemko-BP. Tiga, KEK Batam dikelola BP, Relang oleh Pemko,” kata Rudi dalam Focus Group Discussion di Batam Pos, Rabu (9/8).

Menurutnya, opsi ini dijalankan maka tidak perlu revisi Undang-undang 39/2009 tentang KEK. Karena jika ada UU yang perlu diubah, membutuhkan waktu hingga dua tahun. Sementara di lain sisi, perekonomian Batam sedang berada di garis merah.

“Optimis 2018 membaik karena kepastian hukum ini. Kalau bulan depan sudah ditetapkan Pak Menko, sudah tinggal jalan semua,” kata dia.

Selain menunggu keputusan pusat, pemerintah daerah terus melakukan terobosan dalam upaya memutar roda ekonomi. Di antaranya dengan mengembangkan dunia pariwisata.

“Kalau betul jadi KEK, kembangkan kembali lah industrinya, misal dengan high tech (teknologi tinggi). Industri jadi high tech, pariwisata harus dihidupkan. 2018 jalan bagian timur sudah selesai semua. Saya gesa semua,” ujarnya.

Pada FGD ini, Walikota mendapat banyak masukan terkait perekonomian Batam. Ketua Himpunan Kawasan Industri Batam, Oka Simatupang memberi saran tentang dunia pendidikan vokasi.

Menurutnya perlu dibuat kurikulum khusus di Sekolah Menengah Kejuruan yang berkaitan dengan industri di Batam. Misal kelas McDermott, kelas Schneider, atau kelas lain yang sesuai dengan kebutuhan dunia pabrikasi di Batam.

“Jadi 20-30 persen teori, 70 persen langsung praktik di pabrik. Jadinya memang cuma bisa industri itu, tapi gajinya besar. Karena selama ini, kita pakai high tech tapi tidak bisa operasikannya,” kata Oka.***

A.Z

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top
%d blogger menyukai ini: