HMSTimes - What Happened Today? Ruang Hidup Masyarakat Pesisir, Nelayan Tradisional Dan Perempuan Nelayan Masih Terus Dirampas | HMSTIMES
You are here
Home > HMSNews > Berita > Ruang Hidup Masyarakat Pesisir, Nelayan Tradisional Dan Perempuan Nelayan Masih Terus Dirampas

Ruang Hidup Masyarakat Pesisir, Nelayan Tradisional Dan Perempuan Nelayan Masih Terus Dirampas

Eksistensi masyarakat di 10.666 desa pesisir di Indonesia terancam, padahal sepanjang hidup mereka, masyarakat yang terdiri dari nelayan tradisional dan perempuan nelayan itu sangat gigih menjaga dan merawat Laut Indonesia.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) Susan Herawati dalam keterangan persnya, kemarin. Menurut Susan, ruang hidup bagi nelayan tradisional dan masyarakat pesisir terus menerus mengalami perampasan.

“Eksistensi masyarakat pesisir di 10.666 desa pesisir di Indonesia terancam. Masyarakat pesisir harus menghadapi perampasan ruang dan sulitnya mereka atas laut,” tutur Susan, dalam keterangan persnya, Senin (09/10/2017).

Susan menyampaikan, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) bersama dengan Forum Nelayan Jawa Tengah (FJNT) dan Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) pun menggelar Sedekah Laut dengan tema “Menjaga Laut, Merawat Kehidupan.”

Sedekah laut ini dihadiri oleh lebih dari 150 orang nelayan tradisional dan perempuan nelayan ini diadakan di Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorejo, Jepara, Jawa Tengah. Sedekah laut merupakan tradisi yang dijalankan setiap tahun oleh masyarakat pesisir hampir di sepanjang Pantai Utara Jawa (Pantura).

“Sedekah laut sebenarnya untuk mengingatkan kita tentang keseimbangan alam, ikan sebagai sumber pangan, dan eksistensi masyarakat pesisir yang terus menerus mengalami perampasan,” ujarnya.

Dia mengatakan, Pusat Data dan Informasi KIARA mencatat hingga hari ini nelayan Jawa Tengah setidaknya menghadapi 9 Permasalahan yang membuat mereka semakin terpinggirkan dari ruang hidupnya. Sembilan permasalahan yang dihadapi nelayan Jawa Tengah terkait dengan kebijakan pemerintah di bidang kemaritiman dan kebaharian yang masih belum memberikan perlindungan dan pemberdayaan bagi masyarakat pesisir di Jawa Tengah.

“Kita bisa lihat bagaimana reklamasi di pesisir Tapak, Tugurejo, Kota Semarang membuat nelayan menjadi sulit mendapatkan ikan. Belum lagi hadirnya Pembangunan Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Batang, Jepara dan Cilacap. Ini baru dua dari sembilan permasalahan penting yang dihadapi oleh nelayan dan menjebak nelayan di Jawa Tengah dimiskinkan secara terstruktur,” tutur Susan Herawati.

Sedekah laut dengan tema “Menjaga Laut, Merawat Kehidupan” mencoba menegaskan tentang relasi antara manusia dan alam, khususnya antara laut dan masyarakat pesisir.

Koordinator Forum Nelayan Jawa Tengah Solikhul menuturkan acara itu juga untuk memperkuat masyarakat pesisir agar Tuhan Yang Maha Esa memberikan rezeki bagi mereka.

“Sedekah laut merupakan tradisi untuk mengucapkan syukur atas rezeki yang kami terima selama satu tahun terakhir. Dan tentu ada pengharapan bahwa ke depan rezeki kami akan lebih baik lagi,” ujar Solikhul. (BROJE)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top
%d blogger menyukai ini: