HMSTimes - What Happened Today? Masyarakat Batam Tolak Surat Edaran Pengeras Suara di Masjid | HMSTIMES
You are here
Home > HMSNews > Berita > Masyarakat Batam Tolak Surat Edaran Pengeras Suara di Masjid

Masyarakat Batam Tolak Surat Edaran Pengeras Suara di Masjid

HMSTimes.com, Batam- Terkait edaran surat pengeras suara di Masjid dari Dirjen Bimas Kementrian Agama Republik Indonesia (RI).

Hal itu sampaikan langsung oleh Walikota Batam, Muhammad Rudi dan menolak, saat gelar silaturahm dengan seluruh pengurus masjid dan mushola di Restaurant Golden Prawn, Bengkong, Batam, Kamis (13/9/2018).

Muhammad Rudi dalam sambutannya mengatakan, sesuai hasil keputusan bersama menolak Surat Edaran Kemenag RI tentang penggunaan pengeras suara yang sejak lama sudah dipakai umat Islam dalam menyerukan panggilan ibadah lima waktu sehari semalam.

Penolakan itu, kata Rudi, sesuai Pasal 29 UUD 1945 ayat 2 tentang kebebasan beragama yakni “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaan itu.”

Dirinya mengaku sangat memperhatikan dan tanggap akan aspirasi warganya sesuai amanat UU dalam menjalankan roda pemerintahan. “Sejauh ini Kota Batam sangat kondusif antar umat beragama,” ujarnya.

Sementara itu, ditempat yang sama Kepala Kemenag Kota Batam, H Erizal mengatakan bahwa untuk Kota Batam sendiri sejauh ini diyakini sudah sangat paham tentang bagaimana bertoleransi antar umat beragama.

“Tanpa diarahkan juga, kami dari Kemenag sudah mengambil sikap untuk tidak meneruskan surat edaran itu ke bawah. Bukan berarti kita tidak patuh dengan pusat. Tapi kita melihat situasi dan kondisi di Batam khususnya, tingkat toleransi sangat tinggi,” ucapnya.

Bahkan, Dirinya meyakini umat muslim di Kota Batam paham sekali bagaimana menjaga toleransi antar umat beragama. Tidak perlu ada aturan khusus mengatur hal itu. Karena kebiasaan masyarakat sudah mengatur hal itu dan sudah berjalan selama ini.

“Makanya, kalau ada hal yang mengganggu ketentraman atau mengganggu toleransi antar umat beragama, biasanya sudah bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” ungkapnya.

(Rega)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top
%d blogger menyukai ini: