HMSTimes - What Happened Today? Kasus Kredit Fiktif Jarang Yang Diusut Tuntas, Jaksa Didesak Usut Semua Petinggi PT Bank Jatim dan Perum Jamkrindo Dalam Proyek KUR Fiktf Rp 72,3 Miliar | HMSTIMES
You are here
Home > HMSNews > Berita > Kasus Kredit Fiktif Jarang Yang Diusut Tuntas, Jaksa Didesak Usut Semua Petinggi PT Bank Jatim dan Perum Jamkrindo Dalam Proyek KUR Fiktf Rp 72,3 Miliar

Kasus Kredit Fiktif Jarang Yang Diusut Tuntas, Jaksa Didesak Usut Semua Petinggi PT Bank Jatim dan Perum Jamkrindo Dalam Proyek KUR Fiktf Rp 72,3 Miliar

Pengusutan dugaan tindak pidana korupsi di sektor keuangan sangat jarang bisa dituntaskan. Jaksa dan para pelaku harus dibongkar sampai tuntas.

Seperti yang terjadi pada penyaluran dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang melibatkan oknum petinggi Bank Jatim (Jawa Timur) bersama petinggi Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo), yang selama lima tahun dipendam dan tak kunjung tuntas. Padahal, pemberian kredit itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat bawah.

Ketua Pusat Bantuan Hukum Dan Advokasi Masyarakat (PBHAM) Anggiat Gabe Maruli Tua Sinaga menyampaikan, saat ini kasus-kasus keuangan dan perbankan serta perkreditan rakyat banyak terjadi, namun sangat jarang yang diusut tuntas dan dipublish.

“Kebanyakan main mata, dan tidak selesai sampai tuntas,” tutur Anggiat Gabe Maruli Tua Sinaga, di Jakarta, Senin (06/11/2017).

Dia mengingatkan, bayangkan jika sebuah kasus yang terjadi lima tahun lalu, namun hingga kini tidak tuntas, tentu banyak kecurigaan yang muncul kepada para oknum dan para pejabat hukum yang melakukan pengusutannya.

“Dugaan bahwa aparat penegak hukum dan oknum pejabat bermain demi keuntungan pribadi, sangat kuat,” ujarnya.

Dia pun mendesak semua pihak yang terkait dilakukan proses hukum dan dituntaskan kasus-kasusnya.

“Kita mendesak agar dituntaskan. Buktikan bahwa kasus-kasus itu bisa diselesaikan,” ujarnya.

Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta menaikkan status dugaan korupsi penyaluran dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) PT Bank Jawa Timur (Jatim) Cabang Pembantu Wolter Monginsidi Jakarta ke tahap penyidikan.

Kasus yang terjadi pada bulan Juli 2011 sampai Agustus 2012 itu terkait penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) PT Bank Jatim yang menjaminkan dana para nasabahnya ke Perum Jamkrindo.

Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati DKI Jakarta, Sarjono Turin menyampaikan, pengajuan jaminan itu fiktif. Kedua belah pihak diduga merekayasa, bahwa seolah-olah ada sebanyak 172 nasabah yang mengajukan kredit, yang masing-masing mendapatkan 500.000.000 rupiah.

“Jadi kita telah naikkan ke tahap penyidikan kasus penyaluran dana KUR PT Bank Jatim sebesar 72.382.000.000 rupiah kurang lebih,” kata Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati DKI Jakarta, Sarjono Turin kepada wartawan di Jakarta, Senin (06/11/2017).

Mantan penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu menjelaskan, dana KUR tersebut dengan persyaratan izin usaha dan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

“Dana KUR itu dikoordinir 4 orang yang juga nasabah. Setelah kita lakukan pemeriksaan ke lapangan ternyata 172 nasabah itu tidak ada, atau fiktif,” ujarnya.

Sarjono menambahkan, sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada nasabah PT Bank Jatim Cabang Pembantu Wolter Monginsidi Jakarta mengasuransikan KUR kepada PT Perum Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo).

“Asuransinya resmi namun kreditnya tidak ada. Kenyataannya kredit itu tidak dibayar karena orangnya emang enggak ada,” kata Sarjono.

Sebelumnya, penyidik telah memeriksa 15 orang saksi dalam kasus tersebut, diantaranya Kepala Cabang PT Bank Jatim wilayah Jakarta, Kepala Cabang Pembantu PT Bank Jatim Wolter Monginsidi Jakarta dan analis kredit PT Perum Jamkrindo.

“Kurang lebih 15 orang sudah diperiksa, pihak nasabah, PT Bank Jaktim dan PT Perum Jamkrindo,” ujarnya.

Staf Humas Perum Jamkrindo, Rully membenarkan adanya pemeriksaan kepada beberapa pegawai dari Perum Jamkrindo terkait kasus itu.

“Setelah ditanyain tadi, memang betul pernah ada beberapa orang ditanyain oleh penyidik kejaksaan terkait kasus itu. Tetapi, sifatnya baru sebatas dimintai keterangan,” tutur Rully ketika dikonfirmasi wartawan, Senin (06/11/2017).

Dia mengatakan, selanjutnya kasus ini akan dibahas terlebih dahulu di internal jajaran direksi, agar jelas duduk perkaranya. “Soalnya sudah sejak 2011 ke 2012 kasus ini. Setahu kami, kasus ini urusannya Bank Jatim, dan Jamkrindo tidak ada persoalan sejak awal. Nanti akan dibicarakan dulu di internal direksi,” tutupnya.(BROJE)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top
%d blogger menyukai ini: