HMSTimes - What Happened Today? Eson Gempa : Estetika Budaya Melayu Jangan Terkikis Oleh Arus Dan Eforia Moderenisasi | HMSTIMES
You are here
Home > HMSNews > Berita > Eson Gempa : Estetika Budaya Melayu Jangan Terkikis Oleh Arus Dan Eforia Moderenisasi

Eson Gempa : Estetika Budaya Melayu Jangan Terkikis Oleh Arus Dan Eforia Moderenisasi

HMSTimes.con,Natuna — Dalam suatu upacara adat, telah menjadi tradisi selama bertahun-tahun,yaitu menjadi ciri khas dan keunikan sebuah masyarakat lewat nilai-nilai yang terkandung, dan menjadi simbol tertentu yang menjadi penanda status suku seseorang adalah busana yang digunakan dan identik menjadi indentitas suatu adat.

Kegiatan acara yang berlangsung menghadirkan 4 orang sebagai nara sumber yaitu, Drs. H. Tamrin Dahlan, M.Si, (Kepala bidang penelitian budaya dan tradisi LAM KEPRI), Dra. Hj. Raja Suzana Fitri, M.Pd, (Kepala bidang pelesterian adat dan budaya melayu LAM KEPRI), Hj. Nurhayati Hamid Rizal, BA, (Ketua TP-PKK Natuna), dan H. Wan Suhardi, SE, (LAM Kecamatan Bunguran Timur).

Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari dengan jumlah peserta sebanyak 25 orang, yang terdiri dari Ketua LAM Kecamatan kawasan Bunguran Besar, Perias Pengantin (Mak Andam), perwakilan guru dan perwakilan dari sanggar yang aktif dalam merias dan menggunakan pakaian adat melayu. Tampak juga hadir dalam acara tersebut, sejumlah pimpinan OPD dilingkungan Pemkab Natuna.

Ungkapan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kabupaten Natuna, H. Erson Gempa Apriandi, S.Sos, dalam kesempatan sambutannya pada saat pembukaan acara Seminar dan Workshop Penyusunan Kebijakan Budaya Lokal Daerah Tentang Tata Cara Nikah Kawin dan Pakaian Melayu, di Rumah Makan Sisi Basisir Ranai, Senin, (06/11/2017), malam.

Erson mengatakan, kebudayaan melayu Kabupaten Natuna memiliki karakter budaya sendiri yang sedikit berbeda dari masyarakat melayu umumnya. Seperti adat nikah kawin dan tata cara berpakaian,satu kesatuan dan bagian penting yang merupakan tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan melayu Kepulauan Riau ataupun melayu umumnya.”jelasnya

Selanjutnya Erson juga menjelaskan arus moderennisasi,tradisi dan budaya mulai tersamarkan, cendrung terkikis oleh eforia berlabel modern, sehingga adat perkawinan melayu tradisi Natuna sudah mulai ditinggalkan masyarakat itu sendiri.

“Kami memandang kegiatan ini sudah seharusnya dilaksanakan secepat mungkin, dalam rangka guna menjaga kelestarian estetika adat budaya melayu, agar tata cara nikah kawin tetap tertata dan terjaga dengan baik, dan pakaian adat melayu juga tetap bisa terpelihara seutuhnya,”Tegas Erson

“Kita ingin seluruh adat perkawinan yang ada di Natuna, khususnya suku melayu harus benar-benar memakai adat melayu, untuk menunjukkan jati dirinya sebagai masyarakat yang sadar akan budayanya,”harapnya Erson

Disisi lain ketua Panitia Pelaksana yaitu Hadisun, S.Ag, dalam laporannya memberikan penjelasan dalam laporannya,bahwasanya Kabupaten Natuna telah terbentuk dan berjalan lebih kurang 16 tahun. Selama itu pula berbagai dimensi keragaman serta nilai budaya telah mengalami berbagai dinamika dalam perjalanannya.

“Tanpa pengecualian, dalam hal penyelenggaraan nikah kawin serta tata cara berpakaian melayu, merupakan salah satu bagian penting dari kebudayaan,juga mengalami dinamika tersebut,” ujarnya.

Hadisun juga mengatakan bahwa semakin hari adat tradisi nikah kawin mengalami adanya pergeseran dari beberapa sisi,ini dipengaruhi oleh semakin banyaknya masyarakat yang hijrah dan berdomisili di Natuna. Keterbukaan informasi yang hampir tanpa batas turut andil pula dalam mempengaruhi pergeseran nilai adat dan tradisi nikah kawin orang-orang melayu di Kabupaten Natuna. Latar belakang persoalan ini, maka diselenggarakanlah sebuah kegiatan yang digelar dengan bertujuan untuk dapat memahami dan mengerti secara bersama-sama tentang tata cara nikah kawin dan berpakaian kurung melayu di Kabupaten Natuna.

Lubis

Editor : A.Z

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top
%d blogger menyukai ini: