HMSTimes - What Happened Today? Ale-Ale, Film Pendek dan Kreatifitas Anak Muda Ketapang | HMSTIMES
You are here
Home > HMSHot > Ale-Ale, Film Pendek dan Kreatifitas Anak Muda Ketapang

Ale-Ale, Film Pendek dan Kreatifitas Anak Muda Ketapang

sesi syuting film Ale-ale

HMSTimes.com, Ketapang – Ditepian sungai terdapat keluarga kecil yang tinggal dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan mata pencaharian sebagai Nelayan. Sang Bapak dari pagi hingga menjelang malam mencari Ale-ale untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sampai suatu ketika Ayu, putri sang Bapak yang jenuh dengan menu makanan Ale-ale dan menginginkan makanan lain yang lebih modern karena melihat teman sekolahnya membawa makanan tersebut.

Bapak dan Ibu berusaha meyakinkan Ayu bahwa Ale-ale makanan yang paling enak dan belum ada tandingannya.

Dengan keterbatasan ekonomi dan kesederhanaan keluarga ini mampu bertahan di tengah-tengah tuntutan kehidupan moderen.

Dan mereka tetap bahagia menjalani kehidupan mereka dengan penuh rasa syukur.

Itulah sinopsis dari film pendek berjudul ale-ale berdurasi 18 menit , yang mengambil Lokasi syuting di Pantai Cilincing Desa Suka Baru Kecamatan Benua Kayong Kabupaten Ketapang Kalimantan barat. (28/10/18)

Meli Oktavia Rulinda, tokoh dibalik suksesnya menukangi proses pembuatan film pendek tersebut.

Perempuan kelahiran Ketapang, 09 Oktober 1990 yang pernah memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak, ia menjelaskan” Film tersebut akan di ikutkan dalam KRFF (Kapuas River Film Festival) yang akan dilaksanakan pada 9-11 November 2018. Tujuan dari pembuatan film Pendek ini  menurutnya adalah sebuah tantangan dan peluang bagi anak muda dalam berkreatifitas dan  berkarya demi kontribusi untuk daerah.

“kami sangat senang ternyata apresiasi orang-orang Ketapang tak disangka-sangka sangat positif dan antusias, mereka sangat menantikan film ini dan kami bangga karena sedikit berkontribusi terhadap perkembangan industri kreatif di kota Ketapang”

Anak-anak muda Ketapang harus berani keluar dari zona nyaman kemajuan teknologi yang bersifat negatif. Bangun Ketapang dengan berbagai cara, salah satunya dengan banyaknya industri kreatif yang dihasilkan terutama dalam mengangkat potensi wisata daerah yang belum dimaksimalkan dan mencoba mengabarkan kepada orang-orang tentang keindahan Ketapang dan keramahan adat budayanya” harap nya.

Gadis yang pernah aktif di UKM sarang semut yang merupakan sarana pengembangan seni mahasiswa di lingkungan Universitas Tanjungpura  mengatakan tema lokal tentu sangat menarik dan tidak ada habisnya.

Ia pun berpikir, kenapa tidak mengangkat content lokal daerah saya sendiri yang tradisi dan budaya sangat beragam dan mempunyai kandungan cerita bagus didalamnya. Akhirnya saya berpikiran untuk mengangkat cerita tentang “Ale-Ale” yang sangat iconic dan merupakan makanan khas  Ketapang, dan tidak ditemukan ditempat lain.

“menyebut judulnya saja orang akan terus mengingat “Ale-Ale” sudah semestinya menjadi kebanggaan kita masyarakat ketapang”, pungkasnya

Menurutnya, film ini memakan waktu selama dua bulan proses pembuatannya dan sebanyak 22 Orang terlibat didalamnya yang memiliki latar belakang seni di industri kreatif.

Pendanaan berasal dari dana Pribadi dan sumbangan anggota Pesisir Films, karena masih bersifat independent dan film perdana jadi pada saat produksi film Ale-Ale kami tidak mendapatkan dana dari luar ataupun mengajukan sponsorship” tutupnya.

(Erwin)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top
%d blogger menyukai ini: