HMSTimes - What Happened Today? Diduga Pengawasan Dinas Kesehatan Natuna Tidak Efektif, Pengelolaan Limbah Medis (B3) Puskesmas Serasan Bisa Timbulkan Gangguan Kesehatan | HMSTIMES
You are here
Home > HMSHealth > Berita Sehat > Diduga Pengawasan Dinas Kesehatan Natuna Tidak Efektif, Pengelolaan Limbah Medis (B3) Puskesmas Serasan Bisa Timbulkan Gangguan Kesehatan

Diduga Pengawasan Dinas Kesehatan Natuna Tidak Efektif, Pengelolaan Limbah Medis (B3) Puskesmas Serasan Bisa Timbulkan Gangguan Kesehatan

HMSTimes.com, Natuna –  Sehubungan dengan fakta temuan dilapangan, disekitaran Puskesmas Serasan, (29/6/2019), objek limbah berupa sarung tangan medis, objek limbah berlumuran darah, dan objek limbah lainnya yang terdapat dalam tong sampah diruangan terbuka, depan pintu ruangan pasca persalinan. Menyalahi aturan Standar Opersional Prosedur penangan limbah dan atau pengelolaan limbah B3.

Limbah yang ditemukan ditong sampah Puskesmas Serasan termasuk kategori limbah Infeksius merupakan limbah B3, bersifat infeksius yaitu limbah medis padat yang terkontaminasi organisme patogen yang tidak secara rutin ada dilingkungan, dan organisme tersebut dalam jumlah dan virulensi yang cukup untuk menularkan penyakit pada manusia rentan.

Sesuai Permenkes nomor 27 tahun 2017 tentang pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan, dibahas juga risiko limbah pada pasilitas pelayanan kesehatan. Disana diuraikan rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya sebagai sarana pelayanan kesehatan tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat.

Dapat menjadi tempat sumber penularan penyakit, serta memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan, juga menghasilkan limbah yang dapat menularkan penyakit. Untuk menghindari resiko tersebut, maka diperlukan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan.

Fasilitas pelayanan kesehatan harus mampu melakukan minimalisasi limbah yang dilakukan untuk mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan dengan cara mengurangi bahan (Reduce), menggunakan kembali limbah (Reuse) dan daur ulang limbah (Recycle).

Tujuan pengelolaan limbah pada fasilitas pelayanan kesehatan yaitu melindungi pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan masyarakat sekitar fasilitas pelayanan kesehatan dari penyebaran infeksi dan cidera.

Membuang bahan bahan berbahaya (Sitotoksik, radioaktif, gas, limbah Infeksius, limbah kimiawi dan farmasi) dengan aman.

Proses pengelolaan limbah dimulai dari identifikasi, pemisahan, labeling, pengangkutan, penyimpanan hingga pembuangan/Pemusnahan.

“Temuan objek limbah medis yang terdapat dalam tong sampah di puskesmas Serasan, menyalahi aturan dan SOP. Tidak dilakukan pemisahan objek limbah berupa sarung tangan medis, objek limbah yang berlumuran darah dan juga dengan objek limbah lainnya berada dalam satu tempat, tidak terbungkus dalam kantong plastik”.

Limbah Infeksius merupakan limbah yang terkontaminasi darah dan cairan tubuh masukan kedalam kantong plastik berwarna kuning. Jenis limbah ini seperti sempel laboratorium, limbah patologis (jaringan, organ, bagian dari tubuh otopsi, cairan tubuh, produk darah yang terdiri dari serum,  plasma, trombosit dan lai lain). “Bertolak belakang dengan kondisi objek limbah yang berlumuran darah terdapat dalam tong sampah tidak dimasukkan dalam kantong plastik”.

Tempat penampungan sampah merupakan tempat penampungan sementara (TPS) limbah sebelum dibawa ketempat penampungan akhir pembuangan. Beberapa syarat TPS limbah antara lain, tempat limbah dalam kantong plastik ikat dengan kuat.” Hal ini juga di abaikan oleh oknum tenaga medis, bercermin dengan temuan di lokasi objek limbah yang berada dalam tong sampah, diruangan terbuka, tidak terbungkus plastik sebagaimana semestinya”.

Beri label pada kantong plastik limbah. Setiap hari limbah diangkat dari TPS minimal 2 kali sehari. Mengangkut limbah harus menggunakan kereta dorong khusus. Kereta dorong harus kuat, mudah dibersihkan, tertutup limbah tidak boleh tercecer. Gunakan Alat Pelindung Diri (APD), ketika menangani limbah. TPS harus di area terbuka, terjangkau oleh kendaraan, aman dan selalu dijaga kebersihannya dan kondisi kering. (Objek limbah medis yang ditemukan di tong sampah tidak terdapat label).

Temuan limbah medis di tong sampah puskesmas Serasan yang berada dilingkungan masyarakat, sesuai permenkes Nomor 27 tahun 2017, merupakan limbah B3.  Sangat di sayangkan, kinerja pengawasan diduga tidak berjalan, menyepelekan bahaya limbah B3 terhadap lingkungan masyarakat. Menjadi pertanyaan besar, ada apa gerangan (?), profesionalitas dan tanggungjawab, fungsi dan tugas pengawasan instansi terkait.

Kepala puskesmas Serasan, Syarifah Annisa, saat dikonfirmasi, (5/7/2019), dirinya mengatakan, Gini ya pak, biasanya tong sampah itu posisinya di dalam ruangan VK itu khusus sampah infeksius tapi karena penuh jadi dari petugas kami yang bidan di letakkan diluar biar CS kami ngambil kalau di letakkan di dalam petugas CS tidak bisa masuk karena masih ada pasien.

kebidanan sementara petugas kebersihan (CS) kami cowok. Untuk penanganan sampah kami ada 2 bak, 1 bak untuk sampah non infeksius 1 bak sampah lagi untuk sampah infeksius, itupun kami masih pakai bakar karena mesin untuk pengolahan sampah infeksius atau incenarator memang tidak ada.

Dirinya juga mengatakan objek limbah medis temuan HMSTimes.com dilapangan, yang berada dalam tong sampah dalam keadaan tertutup, sementara temuan fakta dilapangan tong sampah dalam keadaan penuh dan terbuka. Limbah tersebut akan di buang oleh petugas.” Katanya.

Sementara uraian tegas dan jelas dalam Permenkes nomor 27 tahun 2017, berbeda dengan penjelasan Saripah yang mana berbunyi, sebelum dibawa ke tempat pembuangan akhir, semestinya dimasukkan dalam plastik dan terikat kuat, sehingga aman (mengantisipasi pencemaran udara dan penularan penyakit).

Lanjut Saripah, Puskesmas Serasan tidak memiliki alat pengolahan limbah B3, sehingga untuk melaksanakan pengelolaan limbah B3, tidak bisa berjalan maksimal, jelasnya Saripah ini, yang tidak tertutup kemungkinan tempat pembuangan akhir limbah B3 puskesmas Serasan diduga bermasalah, tidak sesuai aturan dan peraturan yang berlaku.

Sementara hingga berita ini terbit, kepala Dinas Lingkungan Hidup Natuna, Wan Asparudin, tidak memberikan tanggapan dan atau jawaban, ketika dikonfirmasi melalui Whatapps, (3/7/2019).

(Abdullah Lubis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top